Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Sebuah Cerita

Teh dan Kopi (Part 4)

Sabtu ke - 22 Teh "Sepertinya ...", ia beralih dari laptop kerjanya dan memandang ke arahku. "Sepertinya apa?" tanyanya bingung. Aku bergumam pelan, " I think we should stop seeing each other. " Jari-jarinya yang sedari tadi menari di atas tombol keyboard laptop berhenti. Ia hanya diam saja, sambil mendesah. Ada sebuah jeda panjang yang cukup kikuk di antara kami. Sampai akhirnya ia menutup layar laptopnya dan meluruskan duduknya menghadap tepat ke arahku. Jangan. Rasanya aku ingin menjerit dalam hati. "Ada apa?" ia tersenyum Aku luluh . Ia memegang tanganku, perlahan . Dan, aku pun tidak berusaha untuk mencegahnya. " I .... like you ." Ia tersenyum, ".. aku tahu." jawabnya singkat sambil meremas tanganku. Aku merajuk, memintanya untuk menanggapiku dengan serius. Kopi Aku tidak pernah menyangka ia akan memintaku untuk berhenti menemuinya. Bagaimana itu bisa dilakukan, ketika ia sudah menjadi se...

Mr.B

B  : You change your hair. Me : Wooow! You noticed? >o< B  : It's hard not to. Me : Nobody else said anything bout it. * blink* Aku merasa sedikit terperanjat karena tanda lingkaran hijau di samping namanya tidak lagi menyala. Ada sedikit rasa pedih membersit, ketika tiba-tiba nama itu tidak lagi muncul di layar telepon genggamku.  Aku menunggu beberapa saat kemudian, berharap nama itu kembali menyala dan membalas apa yang sudah aku katakan. Aku hanya menggigit ujung bibirku dan mematikan ponselku seraya memasukkannya ke dalam tas.  Hari ini hujan dan aku lupa membawa payung. Sial . Aku mengumpat dalam hati dan berlari menembus hujan kota Jakarta, menuju halte TransJakarta yang berjarak seratus meter dari pintu gedung kantorku.  ... Aku melempar lembaran tissue ke sepuluh yang sudah aku gunakan ke dalam keranjang sampah di belakangku. Not the time to get sick! Aku kembali bersumpah serapah dalam hati. Merasa menyesal karena...

Intercept

Aku selalu suka dengan bandara. Ada banyak perasaan yang terasa di tempat itu. Entah sebuah hati yang tercabik karena perpisahan atau tangis bahagia para pelepas rindu yang akhirnya bisa kembali bersatu. Di bandara, sebuah perpisahaan menjadi tak terelakkan akan tetapi sebuah pertemuan selalu bisa menutup hari dengan senyuman.  Aku selalu suka dengan bandara. Bagaimana orang-orang berlarian mengejar waktu yang tertinggal dan sebagian lainnya menatap bosan ke penjuru arah karena waktu tunggu yang tak bergerak dengan cepat. Ketika orang-orang terperanjat dengan zona waktu yang baru. Bagaimana sebuah perasaan lucu mulai memasuki perut mereka saat menginjakkan waktu di tempat yang baru. Juga mengenai rasa takut untuk terbang memasuki dunia lain di seberang sana.  Aku selalu suka dengan bandara. Ketika berbagai orang dari seluruh bagian dunia bisa bertemu dan berinteraksi tanpa sengaja di sebuah tempat .. "Adis!"  Sebuah suara membuyarkan lamunan panjangku. ...

Menanti malam

" Here you are !"  Aku menengadah menatap sang pemilik suara. Suaranya selalu terdengar hangat dan sangat merindukan, terutama di senja hari yang cukup berangin ini. Aku memperhatikan wajahnya yang basah penuh keringat dan pakaiannya yang sudah lusuh. Terlihat nafasnya yang menderu di balik dadanya yang naik turun. "Sudah berapa putaran memangnya?" aku bertanya sembari membereskan alat-alat lukisku yang berserakan di sekitarku.  "Sini duduk dulu," aku menepuk-nepuk ke tempat duduk di sebelahku. Sudah menjadi kebiasaanku akhir-akhir ini untuk berada di tempat ini sepanjang sore. Tempat duduk yang menghadap ke arah sebuah lapangan besar di kampus tempat aku menghabiskan hari-hariku dalam lima tahun terakhir. Dari tempat ini, aku bisa dengan leluasa memandangi dunia kecil yang ada dalam keseharianku dan menatap sang surya yang beranjak pergi untuk berganti malam.  "Tadi masak kita disuruh keliling lapangan 10 kali cuma gara-gara Jose tel...

Suara yang berpendar

Ponsel itu terus berpendar. Sudah ketiga kalinya malam ini. Aku melirik sejenak, mengintip siapa penelpon yang sedari tadi membuat ponsel itu bergetar. Masih dengan nomor yang sama. Walaupun nomor itu tidak lagi tersimpan, tetapi aku masih dengan mudah mengenali siapa pemilik nomor telepon tersebut.  Aku menahan nafas panjang dan mulai mengarahkan tanganku untuk mengambil ponsel yang sedari tadi berpendar dari atas meja kerjaku. Hening. Pendaran di ponsel itu mati. Ia sudah berhenti menelpon , dan aku sedikit menghela nafas lega.  Tak berselang lebih dari satu menit, ponsel itu kembali bergetar. Masih dengan nomor yang sama. Segera kuraih ponsel dari atas meja tersebut dan kujawab panggilan yang sudah tiga kali tidak kuangkat.  "Halo .." sapa suara di ujung sana. Masih dengan jelas kuingat sosok pemilik suara mungil itu. Semua tentangnya. Bagaimana ia akan memegang ponsel di samping telinganya dan menyapa orang yang sedang ia telepon.  " Yes, Mia ....

Sebuah cerita akhir tahun

Ini adalah malam pergantian tahun dan aku masih disini, di sebuah meja kecil di pojokan sudut ruang kantor yang terlihat sangat lengang menunju tengah malam. Paling menyedihkan adalah ketika bekerja untuk seorang klien yang tidak tahu apa arti kata "liburan". Maka aku, masih diperbudak dengan rentetan angka yang berjejer di layar komputerku.  "Belum pulang?" aku agak terperanjat dengan suara yang muncul dari arah belakangku. Secepat kilat aku membalikkan badan, memastikan memang ada sebuah mulut yang memproduksi suara itu.  "Haah ..." aku menarik nafas panjang. Sedikit merasa lega karena sosok itu adalah manusia. Bukan sesuatu yang sering teman-teman kantorku buat sebagai lelucon tengah malam.  "Belum. Sampe pagi kayaknya," aku menjawab sambil memasang wajah cemberut. " It's almost midnight, don't you just wanna go ?" dia masih berdiri bertanya.  Aku melihat ia sudah menggendong tas ranselnya, oh, sudah mau ...

Jendela di lantai 25

Aku terbangun dari tidurku. Tubuhku terasa dingin dan aku menarik selimut untuk semakin membenarmkan tubuhku disana. Agak samar-samar aku mulai mengingat bahwa aku tidak berada di kamarku sendiri. Akh .. aku kemudian menghela nafas panjang. Mengingat bahwa sudah hampir 12 jam aku berada di tempat ini.  Aku melihat sosoknya yang berdiri menghadap ke arah jendela besar yang terdapat tepat di depan tempat tidur ini. Aku selalu menyukai punggungnya. Melihat sosoknya yang tegap disana, seakan dunia hanya miliknya dan si langit. Aku suka melihat bagaimana siluetnya terbentuk dari remangnya kamar ini dan memantul ke dinding di sebelahnya.  "Sudah bangun?" ia seakan terkaget melihat aku sudah duduk dengan memeluk selimut dengan erat di tengah-tengah tempat tidur.  Aku hanya mengangguk. Sedikit tersipu, mengingat aku hanya terbungkus oleh selimut ini dan tidak ada helai kain lainnya. Tiba-tiba ia menghampiri tempatku duduk dan membelai rambutku yang berantakan, " You...

Literasi

Malam ini terlihat lebih sunyi dari biasanya. Mungkin karena ini hari Senin dan bukan waktu yang biasanya dihabiskan para pekerja metropolitan untuk menghabiskan waktu di tempat ini. Tempat ini belum pernah menjadi pilihan pertamaku, tetapi hanya untuk malam ini aku rindu untuk menegak alkohol dengan kadar yang lebih tinggi dari bir-bir minimarket.  Sudah lebih dari dua pramusaji bertanya padaku apakah aku menunggu orang lain dan untuk kesekian kalinya pula aku hanya menggeleng sambil tersenyum. Mulutku asam. Entah karena memang aku belum mengisi perutku dengan makanan solid atau karena jeruk nipis yang aku hisap setelah menegak tequila  yang rasa pahitnya tidak mengguyur beban di kepalaku.  Malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya dimana aku akan terbiasa tenggelam oleh pekerjaan yang tidak ada habisnya. Malam ini, aku muak dengan semua tugas yang tidak kunjung berakhir. Entah aku muak atau mungkin berita yang kudengar hari ini terlalu memuakkan untuk t...

Teh dan Kopi (Part 3)

Sabtu ke-10 Teh "Kamu sudah menikah?" aku bertanya seraya memperhatikan jari manisnya yang sudah terpasang sebuah cincin emas.  "Oh ini?" dia bertanya sambil menunjuk cincin yang sedari tadi aku perhatikan.  Aku mengangguk.  "Belum. Akan." jawabnya singkat.  " Engagement ring , ya?" aku kembali bertanya dan kali ini ia yang menjawab dengan mengganggukkan kepala.  Aku memasang wajah bingung, "Kok kamu nggak pernah cerita?" "Apa yang harus diceritain? Nggak ada yang menarik kok," jawabnya sambil tersenyum. "Ya ..... it's not usual aja." jawabku ringan.  Ia menarik nafas panjang, " Long story short; kami bertunangan sekitar enam bulan yang lalu. Maybe that's what people do when they have dated for so long ."  Aku menggeleng tanda tidak setuju.  "Enggak gimana?" ia bertanya. " Well, the happy ever after doesn't necessarily end with ...

Small Talk

" I don't believe we actually did it ," tiba-tiba perempuan itu membuka suara. Di tengah deruan nafas mereka yang beradu, hanya ada suara desiran AC yang menemani mereka di malam itu.  " You didn't like it ?" laki-laki itu menoleh ke arah perempuan yang terbaring di sampingnya.  Perempuan itu tertawa kecil, " Love it, babe ." jawabnya seraya mengecup bibir si laki-laki yang masih terlihat agak terkejut.  Si laki-laki bangkit dan berjalan dan memainkan musik dari sebuah iPod yang terpajang tepat di hadapan tempat tidur mereka.  " You want something to drink ?" tanyanya sambil menoleh ke si perempuan yang masih berbaring di atas seprai putih.  " I want to have a cigarette, can I ?"  "Kamu merokok?"  " Occasionally, tapi kalau disini nggak boleh merokok ya nggak apa-apa lowh." perempuan itu bangun dan menghampiri si laki-laki. " A glass of wine, will be just fine ."  ...

Teh dan Kopi (Part 2)

Sabtu ke-6 Teh "Jadi, kenapa kamu tidak suka membeli buku?" aku bertanya padanya tanpa basa -basi.  "Maksudnya?" ia membelalakkan matanya. Sambil perlahan meletakkan cangkir kopinya.  "Itu .. " aku menunjuk ke i-Pad yang selalu ia bawa-bawa. Aku pernah mengintipnya bekerja dan aku tahu semua coretan-coretannya akan dia simpan di dalam iPad itu. "Dari kesimpulan mana kamu bisa bilang aku nggak suka membeli buku? Sok tahu!" sahutnya sebal. " Well, sorry .. it's my bad habit to ask with accusation. Aku coba rephrase  ya, kamu kok suka scribbling di layar sentuh itu?"  " Eco friendly , kan?" jawabnya sambil tertawa.  " Actually there is no particular reason at all , sih. Tapi lebih praktis aja, karena dalam sebuah benda yang sama, aku  bisa melakukan banyak hal sekaligus. Nggak ribet. Why? "  Kopi "Kurang romantis aja," sahutnya menanggapi jawabanku.  "Kok...