Skip to main content

Posts

pemandangan secara horizontal

Aku suka pergi berkendara naik mobil. Membuatku dapat melihat pemandangan lain selain dinding kamarku yang sudah mulai jenuh kepelot oti sepanjang hari. Tapi, apa yang kulihat sendiri tidak sama dengan apa yang biasa orang lain lihat. Aku melihatnya secara horizontal. Seluas kaca jendela mo bil ayah. Aku tidak bisa terbangun, penyakit yang aku bawa semenjak lahir ini membuatku mampu untuk menikmati dunia dengan kacamata yang berbeda. Aku tidak bisa bangkit dari tempat tidur, bahkan untuk duduk sekalipun. Aku tidak pernah mengeluh, hampir tidak pernah mungkin. Mungkin karena aku tidak pernah tahu perasaan yang lain selain terbaring diam dan memandangi kamar mungilku. Aku memang pernah cemburu melihat bunda dan ayah yang seringkali keluar masuk dan menengokku di dalam kamar. Bagaimana mereka bisa berdiri dan melengganggkan kaki keluar masuk kamarku sesuka hati. Tapi, kata mereka aku beruntung, aku spesial, dan karenanya aku tidak pernah mengeluh. Tapi, aku tetap lebih senang berada di lu...

menjadi orang bermuka dua atau jadi musuh sejagad raya?

Ini posting saya setelah sekian lama saya nggak ngerasa punya feel untuk nulis. Bener juga kata teman saya, kalo saya lagi senang, saya nggak akan pernah menulis. Kenapa? Jawabannya gampang, karena kalo orang lagi senang, dia nggak perlu mengadu ke siapa-siapa. Tapi, kalo orang galau atau lagi sedih, dia pasti akan nyari temen bicara yang nggak perlu banyak berkomentar. Dan..akhirnya pasti akan terbit sebuah tulisan yang katanya jauh lebih mengena di hati. Saat ini, saya bukan lagi galau. Kalo dibilang sedih juga nggak terlalu, tapi mungkin saya cuma lagi kecewa aja. Tapi, bukan berarti saya juga mengesampingkan hal-hal lain yang ternyata bikin saya luar bisa senang beberapa hari ini. Saya merasa bimbang dengan keputusan yang saya buat. Saya merasa apa yang sudah saya lakukan adalah hal yang paling tepat yang bisa saya lakukan. Untuk menyelamatkan diri saya dari sebuah obsesi yang tinggi dan juga untuk berbicara sejujur mungkin. Sudah lama memang saya menyimpan sebuah kekesalan di hat...

Firework . .

You just gotta ignite the light and let it shine Just on the night like the 4th of July 'Cause baby you're a firework Come on show them what you worth Make them go, oh,oh ,oh As you shoot across the sky (Katy Perry - Firework) A few weeks ago, I have just watched one of the Glee's episode. And, on that movie, there's a kissing scene where the guy feels like he's seeing fireworks when he kiss the girl. And so, I was wondering at that moment, did I ever feel any fireworks in my life? Okay, so we're not talking about the 'kissing' part only, but what I'm trying to say is about the sparkles that we've ever feel when we do something that we really-really wanted and we really-really love. So, as I checked through my memories that I still remembered, I've found some of my experiences that makes me feel like a firework! 1. Kiss! Well now just take a look back again for a while. When I was young, stupid, fool, and have a strong curiosity about what a ...

love version

Here I am, again. Mencoba untuk menuliskan semua pikiran abstrak yang ada di otak saya. Menjelajahi sebuah kata 'definisi'. Saya percaya bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang sama, tidak ada seorang pun yang sama, dan bahkan tidak ada suatu perasaan pun yang sama. Termasuk dengan sebuah perasaan yang sering disebut orang sebagai CINTA. Kalau orang sudah mulai mencoba untuk menjelaskan arti kata cinta, dari sana cerita cinta itu dimulai ... Cinta menurut beberapa orang adalah sebuah kondisi yang tidak terkontrol dimana tidak pernah ada batasan untuk memberikan perhatian kebahagiaan. Bagi beberapa orang, cinta bisa saja tiba-tiba ditemukan pada kondisi yang tidak pernah terduga. Terkadang hilang secara perlahan-lahan. Atau, tiba-tiba cinta bisa saja langsung pergi begitu saja. Disamping kisah-kisah dongeng yang memaparkan 'happy ending' dan 'happily ever after' ataupun kisah tragis 'Romeo and Juliet', bagi saya cinta adalah hal yang lain. Cinta adalah ...

when enough is never enough tonight

Hari ini, sekali lagi rencana saya cukup tidak berjalan sesuai dengan yang saya harapkan. Which as always, akan membuat mood saya cukup berantakan. Tapi, seharusnya semua ini sudah bisa saya prediksi sebelumnya dan sebenarnya bisa saya cegah sebelum hal tersebut terjadi. Namun, sekali lagi ternyata hati saya kalah dengan ratio saya. Saya cukup terlena dengan beberapa hal yang cukup membuat saya senang, hingga akhirnya saya sampai pada satu titik dimana saya sadar kalau saya harus 'bangun' dan menghentikan semuanya. Diawali dari sebuah niat yang cukup jahat dari buah pikiran saya atas sebuah misi 'balas dendam', tapi ternyata berujung dengan 'senjata makan tuan'. Saya seharusnya sadar bahwa saya belum siap untuk memulai kembali perjalanan menuju ke sebuah mesin waktu, saya juga seharusnya sudah sangat sadar bahwa tidak akan ada sebuah niat jahat yang akan berlangsung dengan sukses. Saya cukup merasa marah, bukan dengan orang yang ingin saya 'kerjai', tapi...

keluh kesah di suatu petang

Lagi dan lagi saya terdiam di depan laptop saya. Saya kembali memutar otak saya yang sebenarnya sudah cukup nge-hang untuk kembali bekerja. Saya benar-benar tidak habis pikir, mengapa di depan mata saya masih ada selembar halaman kosong Microsoft Word yang tidak saya utak atik. Saya cuma melamun dan termanggu di balik pijaran lampu tempat makan ini. Saya tahu kalau saya seharusnya menyelesaikan tugas ini beberapa hari yang lalu saat otak saya masih segar dan tidak memiliki keinginan untuk berganti haluan. Tapi, ya sudahlah, terima atau tidak, saya harus menyelesaikannya saat ini. Apa yang membuat saya resah adalah saya harus memilih topik untuk kuliah seminar saya yang notabene saya ambil terlalu cepat. Jujur, saya sempat berpikir apakah langkah saya untuk mengambil mata kuliah tersebut terlampau nekat dan tergesa-gesa. Tapi, saya terlanjur merajut harapan saya setinggi langit dan berharap kalau di awal tahun depan saya sudah bisa menyelesaikan skripsi saya. Lalu saya ter-pause sekian ...

bioskop + no Hollywood = no hope ?

Beberapa waktu belakangan ini ada sebuah berita yang cukup membuat saya terkejut setengah mati dan membuat saya cukup jengkel sampai saya ingin melempar asbak ke muka orang. Berita itu saya yakin juga sudah terdengar sampai ke seluruh penjuru Indonesia. Berita mengenai kenaikan pajak impor barang, dalam kasus ini lebih spesifiknya adalah mengenai film-film impor atau kebanyakan film-film Hollywood yang akhirnya mengakibatkan MPA (asosiasi produsen film Amerika) mulai menarik film-filmnya untuk beredar di Indonesia semenjak tanggal 17 Februari 2011. Hal yang membuat saya merasa sangat heran mengenai masalah ini adalah mengenai alasan dirjen pajak dalam menaikkan pajak tersebut. Saya sempat mendengar beberapa perbincangan di televisi mengenai hal tersebut dimana salah satu alasan dirjen pajak membuat kebijakan baru tersebut adalah untuk mendorong produksi perfilman Indonesia. Sehingga, diharapkan film Indonesia bisa diproduksi lebih banyak dan orang Indonesia lebih banyak menonton hasil ...