Skip to main content

Posts

Teh dan Kopi (Part 4)

Sabtu ke - 22 Teh "Sepertinya ...", ia beralih dari laptop kerjanya dan memandang ke arahku. "Sepertinya apa?" tanyanya bingung. Aku bergumam pelan, " I think we should stop seeing each other. " Jari-jarinya yang sedari tadi menari di atas tombol keyboard laptop berhenti. Ia hanya diam saja, sambil mendesah. Ada sebuah jeda panjang yang cukup kikuk di antara kami. Sampai akhirnya ia menutup layar laptopnya dan meluruskan duduknya menghadap tepat ke arahku. Jangan. Rasanya aku ingin menjerit dalam hati. "Ada apa?" ia tersenyum Aku luluh . Ia memegang tanganku, perlahan . Dan, aku pun tidak berusaha untuk mencegahnya. " I .... like you ." Ia tersenyum, ".. aku tahu." jawabnya singkat sambil meremas tanganku. Aku merajuk, memintanya untuk menanggapiku dengan serius. Kopi Aku tidak pernah menyangka ia akan memintaku untuk berhenti menemuinya. Bagaimana itu bisa dilakukan, ketika ia sudah menjadi se...

A new perspective

Someone once told me that there is nothing wrong with changes. He said that it would give me new perspective. He said, with me being away, it would makes me appreciate the thing that I had before. And yes, sure, Lately, I have been feeling it to be true. To be away with the things that I used to hold on - makes me realize that I have been spoiled. And now, I need to learn how to survive. To learn how to be brave again. And, sometimes, inevitably -- learning how to be OK with the sound of nothingness. Of course, once in a while, I envy those people who are still surrounded by luxury things. Obviously, I would constantly complain about the absence of my old routine. And, also sometimes, I would try to run away -- find the best escape route, just to get rid of the pain. How I hate changes. I wish some things were just stay the same -- forever. But then, I won't ever learn how to fly higher. I won't grow. But then, I also kind of asking my self, ... do I real...

An empty chat room

"Apa itu di tangan kamu?" Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan lamunanku. Aku menoleh, memandang sebuah wajah dari mana suara itu berasal. "Kamu tahu lha, ini apa?" aku menjawab sambil menegak isapan terakhir botol itu. Aku mengambil botol lain yang kutaruh di belakang punggungku, "mau?" aku menawarkan padanya. Ia hanya menggeleng. Aku membuka botol itu dan meminum nya sedikit. "Jadi, seperti ini rasanya." ia melanjutkan, "mabuk kepayang ya?" Aku tertawa parau, "aku tidak mabuk. Apalagi hanya untuk mabuk menangisimu." "Aku tidak pernah bilang kamu sedang menangisi aku," sahutnya. "Kamu hanya menangisi dirimu yang takut sepi," Aku sedikit tersedak mendengar kata-katanya, "sepi ...." bisikku lirih. Rasanya ulu hatiku semakin tertonjok mendengar kata-katanya.  "Kamu akan baik-baik saja bukan tanpa aku?" ia bertanya sambil menyondongkan tubuhnya ke arahku.  "Aku ak...

Stasiun Kereta

"Keretanya terlambat," teriakmu dari kejauhan. Aku tergelak, terangun dari lamunan singkat. "Oh ya?" aku beranjak berdiri. Kamu sudah berdiri lagi di depanku dengan muka ditekuk dan bibir yang manyun. "Iya .. aku nggak paham katanya tadi masih tertahan di Surabaya atau gimana gitu." kamu menjatuhkan badanmu di kursi tunggu yang keras. Hari ini kamu tampak sangat bersemangat untuk pergi. Aku tidak pernah paham, kenapa kamu ingin pergi. Karena rumahmu bukan lagi di Jakarta, tetapi disini. "Mungkin ini pertanda loh," aku membuka suara. "Hmm?" "Iya, pertanda bahwa memang kamu tidak boleh pergi. Toh untuk apa sih? Dua minggu lagi kan kita sudah mulai kuliah lagi." " You know exactly why .. " kamu menonjok lenganku perlahan. " Running away is never the answer , kan?" "Kamu nggak tahu rasanya jadi aku .." kamu menghela nafas panjang.  Ya, aku memang tidak tahu. Just tell me ..  Aku ingin m...

One More

I have one more story to tell But, no ear to listen One death left to cry And no tears to wipe It all went to hollow It all went to fade So, here is the bow,  on my shoulder An arrow to shoot And a target in absence Jakarta, July 2018

Mr.B

B  : You change your hair. Me : Wooow! You noticed? >o< B  : It's hard not to. Me : Nobody else said anything bout it. * blink* Aku merasa sedikit terperanjat karena tanda lingkaran hijau di samping namanya tidak lagi menyala. Ada sedikit rasa pedih membersit, ketika tiba-tiba nama itu tidak lagi muncul di layar telepon genggamku.  Aku menunggu beberapa saat kemudian, berharap nama itu kembali menyala dan membalas apa yang sudah aku katakan. Aku hanya menggigit ujung bibirku dan mematikan ponselku seraya memasukkannya ke dalam tas.  Hari ini hujan dan aku lupa membawa payung. Sial . Aku mengumpat dalam hati dan berlari menembus hujan kota Jakarta, menuju halte TransJakarta yang berjarak seratus meter dari pintu gedung kantorku.  ... Aku melempar lembaran tissue ke sepuluh yang sudah aku gunakan ke dalam keranjang sampah di belakangku. Not the time to get sick! Aku kembali bersumpah serapah dalam hati. Merasa menyesal karena...

Intercept

Aku selalu suka dengan bandara. Ada banyak perasaan yang terasa di tempat itu. Entah sebuah hati yang tercabik karena perpisahan atau tangis bahagia para pelepas rindu yang akhirnya bisa kembali bersatu. Di bandara, sebuah perpisahaan menjadi tak terelakkan akan tetapi sebuah pertemuan selalu bisa menutup hari dengan senyuman.  Aku selalu suka dengan bandara. Bagaimana orang-orang berlarian mengejar waktu yang tertinggal dan sebagian lainnya menatap bosan ke penjuru arah karena waktu tunggu yang tak bergerak dengan cepat. Ketika orang-orang terperanjat dengan zona waktu yang baru. Bagaimana sebuah perasaan lucu mulai memasuki perut mereka saat menginjakkan waktu di tempat yang baru. Juga mengenai rasa takut untuk terbang memasuki dunia lain di seberang sana.  Aku selalu suka dengan bandara. Ketika berbagai orang dari seluruh bagian dunia bisa bertemu dan berinteraksi tanpa sengaja di sebuah tempat .. "Adis!"  Sebuah suara membuyarkan lamunan panjangku. ...