Skip to main content

Posts

Jendela di lantai 25

Aku terbangun dari tidurku. Tubuhku terasa dingin dan aku menarik selimut untuk semakin membenarmkan tubuhku disana. Agak samar-samar aku mulai mengingat bahwa aku tidak berada di kamarku sendiri. Akh .. aku kemudian menghela nafas panjang. Mengingat bahwa sudah hampir 12 jam aku berada di tempat ini.  Aku melihat sosoknya yang berdiri menghadap ke arah jendela besar yang terdapat tepat di depan tempat tidur ini. Aku selalu menyukai punggungnya. Melihat sosoknya yang tegap disana, seakan dunia hanya miliknya dan si langit. Aku suka melihat bagaimana siluetnya terbentuk dari remangnya kamar ini dan memantul ke dinding di sebelahnya.  "Sudah bangun?" ia seakan terkaget melihat aku sudah duduk dengan memeluk selimut dengan erat di tengah-tengah tempat tidur.  Aku hanya mengangguk. Sedikit tersipu, mengingat aku hanya terbungkus oleh selimut ini dan tidak ada helai kain lainnya. Tiba-tiba ia menghampiri tempatku duduk dan membelai rambutku yang berantakan, " You...

Muara

Kau adalah puisi hati Di kala rindu tak bertepi Ku ingin kau ada saat ku membuka mata Hinggaku menutupnya kembali Kau sirnakan kabut kelabu Di savana pencarianku Bagai embun pagi kau Lepaskan dahaga kemarau hati Kaulah lukisan pagi yang ku kembar untuk senjaku Kaulah selaksana bunga yang warnai musim semiku Di kala hati ini Gundah Kau membuatnya menjadi cerah Kaulah matahariku dan kaulah samudra Tempat hatiku bermuara Kau jawaban dari doaku Yang akhiri penantianku Bagai bintang jatuh Kau hadirkan harapan di dalam Hati Kaulah deburan ombak yang pecahkan batu karangku Kaulah gugusan bintang yang hiasi malam gelapku Di kala hati hati ini Gundah Kau membuatnya menjadi cerah Kaulah matahariku dan kaulah samudra Tempat hatiku bermuara

Literasi

Malam ini terlihat lebih sunyi dari biasanya. Mungkin karena ini hari Senin dan bukan waktu yang biasanya dihabiskan para pekerja metropolitan untuk menghabiskan waktu di tempat ini. Tempat ini belum pernah menjadi pilihan pertamaku, tetapi hanya untuk malam ini aku rindu untuk menegak alkohol dengan kadar yang lebih tinggi dari bir-bir minimarket.  Sudah lebih dari dua pramusaji bertanya padaku apakah aku menunggu orang lain dan untuk kesekian kalinya pula aku hanya menggeleng sambil tersenyum. Mulutku asam. Entah karena memang aku belum mengisi perutku dengan makanan solid atau karena jeruk nipis yang aku hisap setelah menegak tequila  yang rasa pahitnya tidak mengguyur beban di kepalaku.  Malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya dimana aku akan terbiasa tenggelam oleh pekerjaan yang tidak ada habisnya. Malam ini, aku muak dengan semua tugas yang tidak kunjung berakhir. Entah aku muak atau mungkin berita yang kudengar hari ini terlalu memuakkan untuk t...

Things I hate about You

I hate the way you talk to me And the way you cut your hair I hate the way you drive my car I hate it when you stare I hate your big dumb combat boots And the way you read my mind I hate you so much that it makes me sick It even makes me rhyme I hate the way you're always right I hate it when you lie I hate it when you make me laugh Even worse when you make me cry I hate the way you're not around And the fact that you didn't call But mostly I hate the way I don't hate you Not even close, not even a little bit, not even at all. (10 things I hate about You)

Senja dan Cangkir Kopi

.. dan disini kita berada.  Di antara senja dan dua buah cangkir kopi.  Melihat matamu yang berbinar ketika cangkir kopi itu dihadapkan ke arahmu. Menikmati bagaimana tubuhmu mengalun bersama dengan aromanya yang merayap keluar dari cangkir itu.  Kamu menghela nafas dan menengok ke arah surya yang semakin tenggelam. Menilik indahnya lembayung yang mulai merekah. Jingga ..  .. dan disini kita berada.  Di antara senja dan dua buah cangkir kopi.  Melihat senyummu yang merekah ketika kamu menegaknya. Menghangatkan kerongkonganmu yang sedikit tercekat dinginnya sore.  Merasa cemburu dengan ufuk barat, yang berhasil menangkap mentari dan menjaganya hangat disana.  .. dan disini kita berada Di antara senja dan dua buah cangkir kopi. Kepada kamu, si pecinta senja dan kopi.  Aku mencintai kamu .. tanpa adanya jeda. Tanpa karena .. tanpa tetapi ..  .. hanya untuk bermuara.  

........

"Aku takut." "Takut untuk apa?" "Untuk mencintai kamu." "Kamu mencintai aku?" "..." "Jangan takut." "Kenapa?" "Mengapa takut akan cinta?" "Karena sakit." "Tidak," "nngg ..." "cinta tidak pernah menyakiti. Ekspektasi yang menyakitimu." "Ekspektasi?" "Ekspektasi untuk kembali dicintai. Ekspektasi untuk mendapatkan apa yang kamu mimpikan. Ekspektasi sebuah adegan yang sempurna." "Bukankah wajar?" "Apa yang wajar?" "Untuk berharap?" "Betul. Tapi, jangan salahkan cinta jika apa yang kamu mau tidak bisa kamu dapatkan." "Lalu?" "Tidak ada yang salah. Karena cinta seharusnya bisa selalu mengerti." "Sampai kapan harus mengerti? Kenapa tidak boleh meminta untuk dimengerti?" ".. sampai kamu tidak merasa harus menuntut apa-apa. Untuk bisa mencint...

Shake It Out

Regrets collect like old friends Here to relive your darkest moments I can see no way, I can see no way And all of the ghouls come out to play And every demon wants his pound of flesh But I like to keep some things to myself I like to keep my issues drawn It's always darkest before the dawn And I've been a fool and I've been blind I can never leave the past behind I can see no way, I can see no way I'm always dragging that horse around All of his questions, such a mournful sound Tonight I'm gonna bury that horse in the ground So I like to keep my issues drawn But it's always darkest before the dawn Shake it out, shake it out, shake it out, shake it out And it's hard to dance with a devil on your back So shake him off And I am done with my graceless heart So tonight I'm gonna cut it out and then restart 'Cause I like to keep my issues drawn It's always darkest before the dawn And it's ...